Lahir dengan kecerdasan di atas rata-rata, membuatku sering besar kepala. Menurutku, aku bisa jadi apa saja yang aku mau. Menurutku, tanpa banyak usaha, aku bisa. Menurutku, aku udah gak perlu orang lain, karena terakhir aku percaya orang lain, aku cuman akan banyak menuntut. Walaupun dari kecil aku dituntut sempurna. Aku tumbuh sebagai toodler lucu nan pintar, banyak bisanya. Bayangkan, aku mencintai angka sejak pertama kali aku sadar, bahwa aku sekolah. Suatu kebanggaan untuk orang tuaku? Sudah pasti. Orang tua mana yang tidak luar biasa bangganya melihat anak pertamanya memiliki potensi besar dalam basic of world, mathematics.
Bumi itu bulat kan ya? Jika kau terus menerus hidup di Barat, aku tak akan pernah memandang Timur dan tak akan pernah melalui Utara dan Selatan kan? Tapi dunia kan luas, seluas segala hal yang dapat kita temukan di dalam buku, sebagai jendela dunia, ternyata aku bukan mahir matematika, tapi aku mencintai matematika. Aku selalu menuntut logika berfikirku untuk dapat beradaptasi dalam segala bidang, kecuali seni dan olah raga.
Aku menemukan jiwa sosialku di tengah-tengan cintaku dengan dunia scienceku, tapi kata orang tuaku, matematika itu segalanya. Jadi di saat aku mencintai pondasinya, aku dapat dengan mudah membangun rasaku untuk segala ilmu yang ingin ku kembangkan di duniaku. Aku kira, aku hanya bisa menghitung, ternyata setelah 19 tahun bersekolah, tepatnya saat duduk di tahun kedua perkuliahanku, aku sadar, bahwa aku sangat mudah mengingat suatu hal yang sudah pernah ku alami atau sudah pernah ku ikat dalam tulisan.
Ternyata ilmu memahami manusia itu menyenangkan, menarik, dan menjadi suatu candu untuk terus menerus menginginkan detailnya. Hingga aku lupa, aku juga manusia. Dua puluh tiga tahun dan aku lupa memahami diri sendiri. Aku lupa, bahwa jiwaku butuh ruang sendiri, butuh ruang untuk memahami, membahagiakan, dan mengembangkan diri sendiri. Dua puluh tiga tahun dan aku sudah duduk di bangku pascasarjana. Suatu kebanggaan yang aku harap dapat melahirkan banyak kebermanfaatan untuk jalan hidup dan jalan suksesku. Panjangnya lagi, untuk keluargaku sekarang dan keluargaku nanti.
Aku tumbuh dengan anugerah tangan yang sangat lihai menvisualisasikan isi hati dan kerangka pikiranku sendiri. Sejauh ini belum tertarik untuk mendalami dunia sastra, bahasa, ataupun tulis-menulis. Tapi dari hasil tanganku, aku dapat perlahan-lahan menyempurnakan cintaku pada matematika dan sains. Dengan tulisanku, banyak keyakinan yang lahir untuk diriku sendiri terus berkembang. Walaupun aku pernah meragukan kemampuan diriku sendiri dan meninggalkan dunia menulis, sekarang aku lebih paham, bahwa isi hati dan kerangka berpikirku, hanya tanganku sendiri yang dapat menerjemahkannya kepada orang lain.
Hai, Aku Salma. Aku akan melahirkan kembali isi hati dan pemahamanku, tanpa menghambat jalan yang lain dan tanpa meragukan langkahku kembali.
Yogyakarta, 21 September 2025
.jpeg)